BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang
untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan nasional. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal dalam
masyarakat yang memiliki peranan penting dalam mengantarkan masyarakat ke arah
kehidupan yang lebih baik, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan
salah satu mata pelajaran yang disajikan pada pendidikan formal dari SD, SMP,
SMA. Dalam melaksanakan tugasnya guru pendidikan jasmani dan olahraga
diharapkan dapat memiliki keterampilan untuk meningkatkan ketrampilan siswa
melalui pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan, agar siswa lebih
antusias untuk mengikuti pelajaran dengan tujuan pendidikan jasmani dapat
tercapai.
Pendidikan
jasmani merupakan salah satu bentuk pendidikan yang ada di Indonesia.
Pendidikan jasmani merupakan bagian dari proses keseluruhan yang mempunyai
tujuan dalam pembentukan kognitif, afektif, psikomotor, dan fisik seseorang.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006: 702) menyatakan bahwa:
Pendidikan
jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan
untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, merupakan keterampilan gerak,
keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas
emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat, dan pengenalan lingkungan hidup
bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih dan
direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Mata
pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan menurut BSNP (2006:
513-514) meliputi permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas
senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar kelas dan kesehatan.
Salah
satu tehnik dasar dan wajib dikuasai oleh setiap pemain bola voli adalah tehnik
pasing. Tanpa adanya penguasaan tehnik pasing yang baik, maka sebuah tim tidak
akan mampu menghadapi pertandingan dengan baik. Karena, pasing adalah langkah
awal yang akan menentukan kemampuan sebuah tim untuk bertahan dan melakukan
penyerangan. Dengan adanya penguasaan tehnik pasing yang baik, maka seorang
setter akan lebih mudah dalam menyesuaikan arah dan tinggi bola yang akan
diset. Dengan demikian, sang attacker-pun akan dapat melakukan spike secara
maksimal.Dengan kata lain, pasing juga biasa dikenal dengan sebutan “reception”, yaitu sebuah usaha tim dalam
rangka menerima, menahan, dan mengendalikan servis atau segala bentuk
penyerangan yang dilakukan oleh tim lawan. Pasing yang baik, bukanlah pasing
yang hanya mampu mencegah bola agar tidak jatuh atau menyentuh area timnya,
tetapi juga harus mampu mencapai posisi setter dengan arah yang tepat, serta
dengan gerakan dan kecepatan yang stabil. Dengan demikian, sang setter dan
attacker akan mampu menciptakan berbagai variasi serangan dengan
mudah.Sebenarnya, tehnik pasing ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
tehnik Underarm pass (passing bawah) dan Overhand pass (passing atas). Underarm
pass atau yang juga biasa dikenal dengan sebutan bump, dilakukan dengan
menggabungkan kedua lengan bawah menjadi satu, dengan arah lurus ke depan. Bola
yang jatuh akan mengenai kedua lengan bawah pada bagian dalam. Tehnik ini
dilakukan dengan posisi yang rendah, yaitu dengan ketinggian sekitar batas
pinggang pemain. Sedangkan Overhand pass adalah tehnik pass yang dilakukan
dengan menggunakan ujung jemari tangan, seperti ketika melakukan set. Teknik
ini dilakukan pada posisi di atas kepala.
Permainan bola voli semakin
berkembang terutama pada tahun – tahun terakhir ini, sejalan dengan
perkembangan permainan ini ikut pula berkembang metode metode melatih baru
dengan kombinasi teknik baru yang lebih efektif dan efisien. Begitu banyak
Negara yang sebelumnya tidak di perhitungkan prestasinya saat ini dapat
menghasilkan tim yang kompak dan cukup disegani,hal ini di sebabkan karena
tiap-tiap tim mampu memanfatkan potensi yang ada secara optimal. Potensi tim
meliputi dalam group dan potensi yang dimiliki setiap pemain.
Untuk memaksimalkan potensi yang ada
pada setiap atlit maka pembinaan kondisi fisik atlit dalam suatu pertandingan
harus optimal , berkenaan dengan ini Harsono (1988:154) mengemukakan yang harus
di perhatikan, “dalam Pra-season ,
yaitu musim latihan jauh sebelumnya pertandingan berbagai komponen kondisi
fisik haruslah dilatih agar pada waktu atlit memasuki musim latihan berikut
yaitu early dan mead season, dia sudah mencapai kondisi fisik “.
Proses pembelajaran bola voli di SMK
NUSANTARA diselenggarakan dalam dua jenis kegiatan intrakulikuler dan
ekstrakulikuler, kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan dalam proses
pembelajaran bertujuan mengembangkan intelektual, sikap atau keterampilan
secara optimal. Olahraga bola voli dimainkan oleh dua tim dimana tiap tim
beranggotakan dua sampai enam orang dalam suatu lapangan dan kedua tim
dipisahkan oleh sebuah net. Tujuan utama dari setiap tim adalah memukul bola
kearah bidang lapangan musuh sedemikian rupa agar lawan tidak dapat
mengembalikan bola.
“Hal ini biasanya dapat dicapai lewat kombinasi tiga pukulan
yang terdiri dari operan lengan depan kepada pengumpan, yang selanjutnya
diumpankan kepada penyerang, dan sebuah spike
yang diarahkan ke bidang lapangan lawan” Barbara (1996:02). Demikian pemain
voli mutlak perlu menguasai teknik passing bola voli secara baik. Tehnik
passing bola voli dipengaruhi faktor kesehatan dan faktor keterampilan. Kedua
faktor tersebut sangat mempengaruhi peningkatan gerakan. Menurut Nurhasan
(2001:168) “ unsur-unsur dalam keterampilan antara lain kecepatan, Kekuatan,
kelincahan, koordinasi, dan kecepatan reaksi”
Berdasarkan
peneliti dan informasi yang didapat dari guru bidang studi pendidikan jasmani
olahraga dan kesehatan, persoalan yang dihadapi di SMK NUSANTARA pada saat
sekarang ini banyak siswa yang tidak memiliki keterampilan teknik melakukan
passing bawah bola voli, salah satu yang terjadi pada siswa kelas X Teknik
Kendaraan Ringan (TKR) Dari 37 siswa terdapat beberapa siswa yang memiliki
keterampilan dalam melakukan passing bawah bola voli yang sangat kurang.Sering
sekali terjadi kesalahan pada saat melakukan passing bawah bola voli sehingga
bola tidak dapat tepat sasaran dalam mengoper bola pada teman, sehingga siswa
tidak dapat melakukannya secara maksimal.
Hal-hal yang seperti di atas yang
kini menjadi permasalahan bagi siswa SMK NUSANTARA Padahal beberapa tahun yang
lalu di SMK NUSANTARA memiliki tim yang handal dalam mengikuti pertandingan
persahabatan antar siswa di sekolah lingkungan terdekat, serta beberapa kali
siswa mengikuti pertandingan tingkat kecamatan, Hingga ketingkat kabupaten
Berdasarkan uraian yang dijelaskan
tersebut, maka dalam hal ini penulis akan mencoba meneliti mengenai keterkaitan
latihan peningkatan kekuatan tangan dan daya tahan yaitu angkat tubuh dengan
kemampuan melakukan passing bawah bola voli. Oleh karena itu dalam penelitian
ini penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul: “Upaya
Meningkatkan Kemampuan Passing Bawah Bola Voli Melalui Pembelajaran Kebugaran
Jasmani Materi Kekuatan Otot Lengan Pada Siswa Kelas X Teknik Kendaraan Ringan
(TKR).
B.
Batasan
Masalah
Batasan
masalah dalam penelitian ini adalah penelitian ini dilaksanakan Di SMK
NUSANTARA DIWEK JOMBANG. Peneitian ini dikhususkan untuk siswa kelas X teknik
kendaraan ringgan (TKR) dengan materi Passing bawah Bola Voli
C.
Rumusan Masalah
Penelitian dalam bidang pendidikan jasmani masih perlu banyak dilakukan
untuk mencari dan menggali aspek-aspek yang bermanfaat dari pendidikan jasmani
tersebut. Sehubungan dengan latar belakang masalah penelitian maka penulis
merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1.
Seberapa besar peningkatan
hasil latihan passing bawah dengan bentuk latihan
berpasangan?
2.
Seberapa besar peningkatan
hasil latihan passinga bawah dengan bentuk latihan
dipantulkan kedinding?
3.
Manakah yang lebih efektif
diantara kedua bentuk latihan di atas dalam permainan bola voli?
D.
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan tujuan permasalahan yang dihadapi maka tujuan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Ingin mengetahui
peningkatan hasil latihan passing bawahdengan bentuk latihan
berpasangan.
2.
Ingin mengetahui
peningkatan hasil latihan passing bawah dengan bentuk latihan
dipantulkan ke dinding
3.
Ingin mengetahui perbedaan
efektivitas diantara kedua bentuk latihan tersebut dalam mengembangkan
penguasaan teknik passing bawah dalam permainan bola voli.
E.
LingkupPenelitian
Sehubungan dengan terlalu luasnya masalah penelitian maka dalam penelitian
ini penulis membatasi ruang lingkup masalah penelitian yaitu sebagai berikut:
1.
Variabel penelitian dalam
penelitian ini adalah:
a) Variabel terikat (independen) yaitu latihan
passing bawah
b) Variabel bebas (dependen) yaitu bentuk latihan
passing bawah berpasangan dan bentuk
latihan passing bawah ke dinding.
2.
Populasi yang menjadi
objek penelitian adalah siswa kelas X Tek
nik Kendaraan Ringgan (TKR) SMK NUSANTARA Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.
3.
Passing bawah. Angga (1996 : 16) menjelaskan bahwa:
“Passing adalah pukulan pertama setelah bola berada dalam permainan akibat dan
serangan, servis lawan maupun permainan net”.
4.
Passing berpasangan, yaitu
suatu model latihan keterampilan passing dengan cara berpasangan.
5.
Passing ke dinding, yaitu
suatu model latihan passing dengan cara memantulkan bola ke dinding.
6.
Efektivitas. Dapat membawa
hasil, akibat, pengaruh, yang memberikan kesan positif.
F.
Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan temuan-temuan yang nantinya mempunyai
manfaat yang berguna:
1.
Sebagai bahan masukan bagi
dunia olahraga pendidikan terutama cabang olahraga permainan bola voli.
2.
Diharapkan dapat
membangkitkan perhatian pihak-pihak yang terkait dengan perkembangan dunia
olahraga yaitu para pakar, guru olahraga, pembina olahraga, mengenal pentingnya
bentuk-bentuk latihan.
3.
Menjadi bahan masukan bagi
yang akan melakukan penelitian terutama di bidang keolahragaan yang
permasalahannya ada hubungannya dengan penelitian.
G.
DEFINISI OPRASIONAL
“Terdapat perbedaan efektivitas diantara hasil latihan
passing bawah dengan latihan
berpasangan dengan hasil latihan passing bawah dengan bentuk latihan
dipantulkan ke dinding dalam mengembangkan keterampilan teknik passing bawah dalam permainan bola voli”.
H.
AsumsiPenelitian
Adapun yang menjadi dasar dalam penelitian ini adalah:
1.
Atlet yang menguasai
teknik yang baik akan mampu mengarahkan bola sesuai dengan keinginannya.
2.
Memilih metode latihan
yang tepat adalah metode yang meningkatkan penguasaan teknik dasar dalam waktu
singkat.
3.
Teknik dasar yang mudah
akan lebih cepat dikuasai oleh atlet.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Belajar
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata,
1984:252) belajar
merupakan
proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan
perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh
lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan
semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti
perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning
1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan
tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam
situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan
terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan
serta-merta akibat refleks atau perilaku yang
bersifat naluriah.Moh. Surya (1981:32), definisi belajar
adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan
yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar
adalah perubahan dari diri seseorang.
B.
Pengertian
Pembelajaran
Pembelajaran
adalah “penyajian informasi dan aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk
membantu memudahkan siswa belajar dalam rangka mencapai tujuan khusus belajar
yang diharapkan “ (Setyosari, 2001 : 4). Dengan kata lain, pembelajaran adalah
wujud tindakan dari aktivitas-aktivitas yang difokuskan pada si belajar yang
mempelajari hal-hal khusus.
Pembelajaran
adalah kegiatan guru secara terprogam dalam desain istruksional untuk membuat
siswa belajar lebih aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Salah
satu keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam
merencanakan dan melaksakan pembelajaran (Dimyati dan Mujiono, 1994:159).
Panen
(2007: 17) “menyatakan pembelajaran mengacu pada segala kegiatan yang dirancang
untuk mendukung proses belajar mengajar yang di tandai dengan adanya perubahan
prilaku individu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran”.
Dari
pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan atau
upaya yang dilakukan oleh guru dalam menyajikan informasi dan
aktivitas-aktivitas untuk membantu dan memudahkan siswa dalam rangka mencapai
tujuan khusus belajar yang diharapkan.
C.
Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian
terpenting dalam pembelajaran.Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil
belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil
belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotorik.Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar
merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari
sisi guru, tindak mengajar diakhiri denganproses evaluasi hasil belajar. Dari
sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses
belajar. Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27) menyebutkan enam
jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
1.
Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang
telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan
fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2.
Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang
hal yang dipelajari.
3.
Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah
untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
4.
Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam
bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5.
Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya
kemampuan menyusun suatu program. 13
6.
Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang
beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil
ulangan. Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalamanbelajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan
evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan
tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang
diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif IPS yang mencakup
tiga tingkatan yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan (C3).
Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif
adalah tes.
D.
Faktor- faktor yang Mempengaruhi Hasil
Belajar
Hasil belajar sebagai salah satu
indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari
faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Sugihartono, dkk.
(2007: 76-77),menyebutkan faktor-faktoryangmempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut:
1.
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu
yang sedang belajar.
2.
Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor
psikologis.
3.
Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu.
Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor
masyarakat. 14Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar di
atas, peneliti menggunakan faktor eksternal berupa penggunaan model
pembelajaran kooperatif Jigsaw dan model pembelajaran kooperatif STAD.
Pelaksanaan dua jenismodel pembelajaran kooperatif ini menuntut keterlibatan
siswa secara aktif dalam pembelajaran IPS.
E.
Model
Pembelajaran
Model
pembelajaran adalah bentuk kegiatan yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan
proses –proses atau tahap-tahap yang dilibatkan dalam perencanaan pembelajaran,
tahap ini biasanya disampaikan dalam bentuk suatu diagram, alur model, dan
sebagainya (Styosari, 2001 : 106). Sedangkan menurut Widijoto (2006 :6) model
pembelajaran adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam
menyampaikan pesan atau materi kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif dan efesien.
Dari
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan model pembelajaran adalah suatu
bentuk kegiatan menyampaikan pesan atau materi kepada siswa oleh guru dengan
mengembangkan bahan dan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang diinginkan.
F.
Strategi
Pembelajaran
Dalam
proses penyampaian materi seorang guru harus mempunyai strategi yang tepat
dalam pembelajaran. Agar siswa mampu mencapai kemampuan dasar yang diinginkan
guru dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus pandai dalam menggunakan
strategi pembelajaran dalam kondisi tertentu untuk mencapai hasil pembelajaran
yang diinginkan.
Widijoto
(2009:4), strategi pembelajaran adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan
oleh guru dalam menyampaikan pesan atau materi kepada siswa sehingga tujuan
pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai secara efektif dan efesien.
Sedangkan menurut Sanjaya (2005:99) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran
diajukan sebagai penataan cara-cara yang tersusun dalam suatu tatanan yang utuh
dan dengan urutan langkah yang jelas untuk mencapai hasil pembelajaran yang
diinginkan.
Beberapa
penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa strategi Dari bpembelajaran
adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru menggunakan gaya yang sesuai
agar siswa dapat senyaman mungkin selama mengikuti proses belajar mengajar.
G.
Pengertian
Pendidikan Jasmani
Menurut
Syarifudin (1997:2) “pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari
pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai aktifitas yang mengembangkan
individu secara organ, neuromaskuler, intelektual, dan emosional”. Husdarta (
2009:21) “pendidikan jasmani adalah suatu program pendidikan lewat gerak
permainan dan olahraga”. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan permainan,
atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik.
Sedangkan menurut Tamat dan Mirman (2008:1.5) “pendidikan jasmani merupakan
usaha untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak ke arah kehidupan
yang sehat jasmani dan rohani, usaha tersebut merupakan kegiatan jasmani atau
fisik yang di program secara ilmiah, terarah, dan sistematis, yang disusun oleh
lembaga pendidikan yang berkompeten ”. Menurut Badan Standar Nasional
Pendidikan (2006: 702) menyatakan bahwa:
Pendidikan
jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan
untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, merupakan keterampilan gerak,
keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas
emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat, dan pengenalan lingkungan
hidup bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih dan
direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Dari
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan jasmani
adalah bagian integral dari pendidikan jasmani secara keseluruhan, yang
berujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak,
keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas
emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat, dan pengenalan lingkungan
hidup bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan direncanakan
secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
H.
Tujuan
Pendidikan Jasmani
Menurut
BNSP (2006:648-649) Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
(1)Mengembangkan
keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan
kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan
olahraga yang terpilih, (2) Meningkatkan
pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, (3) Meningkatkan
kemampuan dan keterampilan gerak dasar, (4) Meletakkan landasan karakter moral
yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan
jasmani, olahraga dan kesehatan, (5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, dan
disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis, (6)
Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendri, orang lain,
dan lingkungan, (7) Memahami konsep pendidikan jasmani dan olahraga
dilingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik
yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap
yang positif.
Dari
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani, olahraga dan
kesehatan adalah mengembangkan keterampilan diri dalam upaya mengembangkan dan
memelihara kebugaran jasmani, sporti, jujur, disiplin, selalu berfikir positif,
bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis.
I.
Permainan
1.
Pengertian
Bola Voli
bola
voli adalah olahraga yang dimainkan oleh dua tim dalam satu lapangan yang
dipisahkan oleh net. Terdapat versi yang berbeda tentang jumlah pemain,
jenis/ukuran lapangan , angka kemenangan yang digunakan untuk keperluan
tertentu. Namun pada hakekatnya permainan bola voli bermaksud menyebarluaskan
kemahiran bermain kepada setiap orang yang meminatinya. Permainan bola voli
merupakan permainan beregu diatas lapangan berukuran panjang 18m dan lebar 9m,
dibatasi oleh garis selebar 5cm. Ditengah lapangan ada garis sepanjang 9m, yang
membelah lapangan menjadi 2 sama besar. Lurus diatasnya terdapat net, dengan
tinggi untuk putra 2, 43m dan untuk putri 2,24m. Terdapat 2 regu yang saling
berhadapan dan setiap regu terdapat 6 pemain, 3 pemain sebagai pemain penyerang
dan 3 lainnya sebagai bertahan. (Viera, dkk. 2003:3-4)
Menurut
Durrwacher (1982:1-2) permainan bola voli mempunyai segi positif: (1) lapangan
permainan relative kecil, perlengkapan sederhana, (2) sifat permainan tidak
berubah apabila lapangan dipersempit atau jumlah permainan dikurangi, (3)
gagasan permainan sederhana, (4) kekuatan regu sangat tergantung dari semangat
bermain serta kemampuan semua pemain, (5) kecepatan reaksi kelincahan
kewaspadaan serta kemampuan konsentrasi dan daya loncat sangat dilatih, (6)
resiko cidera sangat kecil.
2.
Hakikat Teknik Permainan Bolavoli.
Menurut
Suharno HP (1984: 1), permainan bolavoli adalah cabang olahraga beregu yang
dimainkan oleh dua regu yang masing-masing regu berjumlah enam orang pemain dan
di setiap lapangan dipisah oleh net. Pantulan bola yang dimainkan boleh
menggunakan seluruh anngota badan. Maksud dan tujuan dari permainan ini adalah
menjatuhkan bola dilapangan lawan melewati atas net dengan syarat pantulan
sempurna dan bersih sesuai dengan peraturan. Permainan dimulai dengan pukulan
bola servis. Bola harus dipukul dengan satu tangan ke arah lapangan lawan
melewati net.
Setiap
regu dapat memainkan bola tiga kali pukulan untuk dikembalikan (kecuali pukulan
pada saat membendung). Nilai permainan bolavoli hanya regu yang menang satu
reli permainan memperoleh satu angka. Hingga salah satu regu menang dalam
pertandingan dengan terlebihdahulu mengumpulkan minimal dua
puluh lima angka dan untuk set penentuan lima belas angka.
Menurut
M.Yunus (1992: 68), teknik adalah cara melakukan atau melaksanakan sesuatu
untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien dan efektif. Teknik dalam
permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efisien
dan efektif sesuai peraturan-peraturan yang berlaku dalam voli untuk mencapai
hasil yang optimal.
Sedangkan menurut Suharno HP (1979:
11), Teknik adalah suatu proses melahirkan keaktifan jasmani dan pembuktian
suatu praktik dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam
cabang permainan bolavoli. Untuk meningkatkan prestasi bolavoli, teknik ini
erat hubungannya dengan gerak, kondisi fisik, taktik dan mental. Teknik dasar
bola voli harus betul-betul dikuasai terlebih dahulu agar dapat meningkatkan
mutu prestasi permainan bolavoli. Penguasaan teknik dasar merupakan salah satu
unsur yang ikut menang atau kalahnya satu regu dalam suatu pertandingan
disamping unsur-unsur kondisi fisik, taktik dan mental.
Penguasaan
teknik dasar merupakan hal terpenting dalam suatu cabang olahraga,karena
keberhasilan dalam melakukan teknik dasar akan menentukan keberhasilan dalam
suatu cabang olahraga. Seperti yang dikemukakan Suharno HP (1984: 12), dalam
mempertinggi bermain bolavoli, teknik dasar harus dipelajari terlebih dahulu
karena teknik dasar merupakan pondasi dari proses gerak yang mampu meningkatkan
keterampilan gerak yang bermutu tinggi, serta untuk meningkatkan mutu prestasi permainan bolavoli dan juga merupakan salah satu
unsur untuk yang menentukan menang atau kalah suatu regu dalam pertandingan
disamping unsur-unsur kondisi fisik, taktik dan mental.
Menurut
Suharno HP (1984: 11), syarat penting dalam penguasaan teknik dasar bolavoli
mengingat hal-hal sebagai berikut:
a. Hukuman terhadap pelanggaran
permainan yang berhubungan dengan kesalahan dalam melakukan teknik.
b. Karena terpisahnya tempat antara
regu yang satu dengan lainnya, sehingga tidak ada terjadinya adanya sentuhan
badan dari permainan lawan, maka pengawasan wasit terhadap kesalahan teknik ini
lebih seksama.
c. Banyaknya unsur-unsur yang
menyebabkan terjadinya kesalahan-kesalahan teknik antara lain: membawa bola,
mendorong bola, mengangkat bola, pukulan rangkap dan bola tertahan.
d. Permainan bolavoli adalah permainan
bola cepat,artinya waktu untuk memainkan bola sangat terbatas, sehingga teknik
yang tidak sempurna mengakibatkan timbulnya kesalahan-kesalahan teknik yang
lebih besar.
e. Penggunaan teknik-teknik yang tinggi
hanya dimungkinkan kalau penguasaan teknik dasar dan tinggi dalam permainan
bolavoli sudah cukup sempurna.
Berdasarkan
syarat penguasaan teknik dasar bolavoli, maka teknik-teknik dasar permainan
bolavoli dapat dibedakan menjadi berikut:
a. Servis
Menurut M.Yunus (1992: 69), servis merupakan pukulan
pembukaan untuk memulai suatu permainan sesuai dengan kegunaan permainan,
teknik saat ini hanya sebagai pembukaan permainan, tetapi jika ditinjau dari
sudut teknik sudah merupakan serangan awal untuk mendapat nilai agar suatu regu
berhasil meraih kemenangan.
Sedangkan
menurut Nuril Ahmadi (2007: 20),Servis adalah pukulan pertama yang dilakukan
dari belakang garis akhir lapangan permainan melampaui net ke daerah lawan.
Pukulan servis dilakukan pada permulaan dan setiap terjadinya kesalahan. Karena
pukulan servis sangat berperan besar untuk memperoleh poin, maka pukulan servis
harus menyakinkan, terarah, keras dan menyakitkan lawan.
b. Passing
Passing
adalah upaya seseorang pemain yang menggunakan teknik tertentu untuk
mengoperkan bola yang dimainkan kepada teman satu regu untuk dimainkan di
lapangan sendiri (Nuril Ahmadi, 2007: 22). Dalam permainan bolavoli, Passing
dapat dilakukan dengan cara Passing bawah dan Passing atas.
Menurut
M.Yunus (1993: 79), Passing adalah mengumpankan bola teman sendiri dalam satu
regu dengan teknik tertentu sebagai langkah awal untuk menyusun serangan ke
regu lawan.
Berdasarkan
pada macam-macam teknik dasar passing dalam permainan bola voli, maka teknik
passing dibedakan menjadi teknik passing atas dan passing bawah.
1)
Passing atas
Cara
melakukan passing atas adalah jari-jari tangan terbuka lebar dan kedua tangan
membentuk mangkuk hampir saling berhadapan. Sebelum menyentuh bola, lutu
ditekuk sedikit sehingga di muka setinggi bahu. Sudut antara siku dengan badan
kurang lebih 45derajat. Bola disentuhkan dengan cara
meluruskan kedua kaki dengan lengan.
Adapun teknik dasar passing atas
antara lain :
(1)
Sikap Permulaan
Sikap berdiri normal yaitu berdiri dengan salah
satu kaki berada di depan kaki yang lain. Kedua lutut ditekuk dan badan sedikit
condong ke depan dengan tangan siap berada di depan dada.
(2)
Pelaksanaan
Perkenaan bola pada jari adalah di ruas pertama dan
kedua atau bagian tepat jari (bukan ujung jari), Jari-jari tangan secara
keseluruhan membentuk suatu setengah lingkaran, dan jari-jari direnggangkan
sedikit satu dengan yang lain dengan ibu jari membentuk sudut, Penempatan
jari-jari yang benar akan membuat sentuhan pada bola menajdi merata oleh semua
jari, Kedudukan jari-jari berada tepat dimuka wajah dan perkenaan bola tepat
pula dimuka wajah.
(3)
Gerakan Lanjutan
Setelah bola dipassing maka
lengan lurus dan dikuti dengan gerakan badan dan langkah kaki ke depan agar
koordinasi tetap terjaga dengan baik. Latihan passing atas dapat dilakukan
secara berpasangan atau kelompok dua orang lebih, sesuai dengan jumlah bola
yang ada.

Gambar 2.
Passing Atas
Sumber :
Irwansyah (2006 : 8 )
2)
Passing bawah
Menurut
Barbara L. Viera (2004: 19), Passing bawah atau operan lengan bawah merupakan
teknik dasar bolavoli yang harus dipelajari lebih tegasnya, Barbara mengatakan
bahwa operan ini biasanya menjadi teknik pertama yang digunakan tim bila tidak
memegang servis. Operan ini digunakan untuk menerima servis, spike, memukul
bola setinggi pinggang bawah dan memukul bola yang terpantul di net”.
Passing
bawah ini merupakan teknik dalam permainan bolavoli yang mempunyai banyak
fungsi dan kegunaan. Menurut Nurul Ahmadi (2007: 23), memainkan bola dengan
lengan bagian bawah merupakan teknik bermain yang cukup penting. Passing bawah
merupakan teknik pada permainan bolavoli yang sangat mendasar, passing bawah
digunakan sebagai langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan.
Passing bawah dilakukan dengan cara memukul bola dari bawah pada perkenaaan
pada lengan.
Passing
bawah menurut Nurul Ahmadi (2007: 23) adalah teknik memainkan bola dengan sisi
lengan bawah bagian dalam baik dengan menggunakan satu atau dua lengan secara
bersamaan.
Kegunaan
dari passing bawah bolavoli antara lain adalah untuk menerima bola servis,
menerima bola smash atau serangan dari lawan, untuk mengambil bola setelah
terjadi blok atau bola pantul dari net, untuk menyelamatkan bola yang terpantul
keluar menjauhi lapangan permainan dan untuk mengambil bola rendah yang datang
secara tiba-tiba.
Menurut
Herry Koesyanto (2003: 26), dalam melakukan passing bawah dapat dilakukan
dengan dua cara yaitu dengan satu tangan dan dua tangan. Passing bawah satu
tangan biasanya dipergunakan apabila bola berada agak jauh dari badan dan agak
rendah. Bentuk-bentuk melakukan passing bawah antara lain:
a)
Menggunakan
lengan dengan jari-jari menggenggam
b)
Punggung
tangan dengan jari-jari terbuka
c)
Pergelangan
tangan bagian dalam dengan tangan menggenggam
Sedangkan passing bawah dengan dua tangan ada beberapa
bentuk sikap tangan sebelum melakukan passing bawah dua tangan antara lain:
a)
The
Dig (Clenched First Method) yaitu kedua ibu jari sejajar dan jari-jari tangan
yang satu membungkus jari tangan lainnya, ini asalnya dari Amerika, Bentuk ini
sering digunakan bagi pemain yang sudah tinggi kemampuan passing bawahnya,
Karena lebih fleksibel apabila menerima bola dari arah manapun.
b)
Mengemis
(Thumb Over Palm Method) yaitu kedua telapak tangan menghadap ke atas dengan
punggung satu tangan menempel pada telapak tangan lainnya dan dijepit ibu jari.
Perkenaan bola diatas pergelangan tangan (bagian proksimal) bentuk ini lebih
tepatnya bagi pemula karena untuk mempermudah mengantisispasi bola pada bidang
perkenaan.
Menurut Nuril Ahmadi (2007: 23) teknik passing bawah terdiri
dari bebreapa tahapan, antara lain:
b) Persiapan
(1)
Bergerak
kearah datangnya bola dan atur posisi tubuh
(2)
Genggam
jemari tangan
(3)
Kaki
dalam posisi meregang dengan santai, bahu terbuka lebar
(4)
Teknik
lutut tahan tubuh dalam posisi rendah
(5)
Bentuk
landasan dengan lengan
(6)
Sikut
terkunci
(7)
Lengan
sejajar dengan paha
(8)
Pinggung
lurus
(9)
Pandangan
kearah bola
c) Pelaksanaan
(1)
Terima
bola didepan badan
(2)
Kaki
sedikit diulurkan
(3)
Berat
badan dialihkan kedepan
(4)
Pukulan
bola jauh dari badan
(5)
Pinggul
bergerak kedepan
(6)
Perhatikan
Bola saat menyentuh lengan. Perkenaan pada lengan bagian dalam pada permukaan
yang luas diantara pergelangan tangan dan siku.
d) Gerakan Lanjutan
(1)
Jari
tangan tetap digenggam
(2)
Siku
tetap terkunci
(3)
Landasan
mengikuti bola kesasaran
(4)
Pindahkan
berat badan ke arah sasaran
Gambar 1.
Passing Bawah
Sumber :
Irwansyah (2006 : 8)
Jadi dapat diambil kesimpulan passing bawah dalam penelitian
ini adalah mengoper bola kepada teman yang dilakukan dibawah atau dari bawah ke atas.
c. Umpan (set up)
Menurut
M.Yunus (1992: 101) umpan adalah menyajikan bola kepada teman dalam satu regu,
yang kemudian diharapkan bola tersebut dapat diserangkan ke daerah lawan dalam
bentuk smash.
d. Smash
Dengan
membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk
dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan
faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Menurut
Muhajir (2006: 23) teknik smash dalam permainan bolavoli dapat diartikan
sebagai “cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan
permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal”.
M.Mariyanto (2006:128) mengatakan
bahwa Smash adalah suatu pukulan yang kuat dimana tangan kontak dengan bola
secara penuh pada bagian atas, sehingga jalannya bola terjal dengan kecepatan
yang tinggi, apabila pukulan bola lebih tinggi berada diatas net, maka bola
dapat dipukul tajam ke bawah”. Iwan kristianto (2003: 143) mengatakan bahwa:
Smash
adalah pukulan keras yang biasanya mematikan karena bola sulit diterima atau
dikembalikan”. Spike adalah merupakan bentuk serangan yang paling banyak
digunakan untuk menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim dalam
permainan voli. Dari beberapa pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa Teknik Smash atau spike adalah cara memainkan bola dengan
efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan untuk mencapai pukulan
keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan. Tes smash Menurut Sandika
mengemukakan bahwa tes Smash adalah tolak ukur untuk mengukur kemampuan smash.
e. Bendungan (block)
Block
merupakan benteng pertahanan yang utama untuk menangkis serangan lawan (M.
Yunus, 1992: 119). Menang atau kalah pada pertandingan bolavoli sesungguhnya
tergantung pada baik tidaknya Basic Skill atau kemampuan dasar pemain itu
sendiri. Basic Skill block atau pertahanan merupakan inti dari seluruh
pertahanan. Hanya dengan pertahanan yang kuat pemain dapat melindungi
pukulan-pukulan smash lawan.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Dalam memecahkan masalah sangat
diperlukan suatu cara atau metode, Karena metode merupakan faktor yang penting
dalam menentukan keberhasilan dari suatu penelitian terhadap subjek yang akan
di teliti. Dalam hal ini peneliti ingin menggunakan metode penelitian tindakan
( class room action regens ) yang akan di laksanakan pada siswa kelas x tkr
(teknik kendaraan ringan) SMK NUSANTARA
Penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermataan terhadap
kegiatan yang di sengaja di munculkan, dan terjadi pada sebuah kelas. Pihak
yang melakukan adalah guru sendiri, sedangkan yang melakukan pengamatan adalah
guru sendiri, sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya
proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan
tindakan.pelaksanaan penelitian ini melibatkan pengajar dan peserta didik.
penelitian tindakan ini dilakukan melalui putaran yang setiap siklus terdiri
dari tes awal, rencana, tindakan, observasi,dan refleksi.
B. Rancangan
Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa
kelas x tkr (teknik kendaraan ringan) yang diambil sebesar 37 siswa kelas x tkr
(teknik kendaraan ringan) smk nusantara.
C. Prosedur
Penelitian Tindakan
Hal hal yang harus di perhatikan
dalam model proses penelitian tindakan yakni, setiap proses putaran mempunyai
kegiatan yang berbeda dalam arti proses penelitian pertama merupakan awal dari
proses, sedangkan penelitian putaran kedua Merupakan kelanjutan dari putaran
yang pertama. Dan seterusnya. putaran kedua dilakukan setelah mengetahui hasil
tes pertama. Sehingga mencapai peningkatan hasil.
Tes Awal

|
|
Perencanaan
|
|
![]() Refleksi |
SIKLUS I
|
Pelaksanaan
|
|
|
Pengamatan
|
|
|
|
Perencanaan
|
|
|
Refleksi
|
SIKLUS II
|
Pelaksanaan
|
Pengamatan

?
Gambar: Model Penelitian tindakan Kelas
Proses
Pelaksanaan Penelitian Tindakan
SIKLUS I
1. Tahap
Perencanaan
a.
Menyiapkan materi program latihan angkat tubuh yang akan di berikan
kepada siswa pada siklus pertama. Program latihan ini dilaksanakan selama 6
kali pertemuan, pada siklus I ini sebanyak 3 kali pertemuan, yaitu pertengahan
bulan Desember 2016 dengan perincian sebagai berikut.
f.
Latihan dilakukan 3 kali seminggu .
g.
Latihan dilaksanakan setiap senin,
rabu dan Jumat..
h.
Latihan di laksanakan pada sore hari
mulai pukul 15.00 – 17.00
i.
3 kali pertemuan untuk melaksanakan latihan passing bawah bola voli
dan tes siklus I
j.
3 kali pertemuan untuk melaksanakan latihan servis atas bola voli
dan tes siklus II
Menyiapkan alat alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
tes awal dan siklus I kepada siswa berupa tes kemampuan teknik dalam servis
atas bola voli
Menyiapkan semua sarana yang di gunakan dalam proses pembelajaran
untuk meningkatkan kemampuan tehnik dalam servis atas bola voli melalui latihan
angkat tubuh.
b)
Tahap Pelaksanaan
Mengidentifikasi materi peningkatan kemampuan
teknik servis servis atas bola voli melalui latihan angkat tubuh
e)
Melaksanakan tes awal dan tes akhir siklus I kepada siswa berupa
tes kemampuan teknik dalam servis atas bola voli.
Sebelum melaksanakan tes ini ada beberapa hal
yang perlu disiapkan
yaitu sebagai berikut :
1.
Perlengkapan
a)
Lapangan bola voli yang datar
b)
Net dan tiang net
c)
2 buah tiang untuk angkat tubuh
d)
4 buah bola voli
e)
Stopwatch dan pluit
f)
Alat tulis
2. Petugas
a)
Petugas observasi tehnik dalam
melakukan servis atas bola voli
b)
Pengawas atau pencatat skor
3. Pelaksanaan
tes
a)
Siswa di kumpulkan dengan formasi baris empat berbanjar dan di beri
pengarahan.
b)
Siswa di panggil satu persatu.
c)
Siswa berdiri di belakang lapangan permainan
bola voli.
d)
Bola diletakkan di belakang garis
batas tepi lapangan.
e)
Servis dilakukan tidak menginjak garis batas tepi lapangan sampai
bola melewati net permainan bola voli
f)
Apabila bola masuk dan dilakukan dengan tidak menyangkut di net /
melewati net, servis tersebut dinyatakan sah dan mendapat nilai sesuai dengan
ketetapan di lapangan yang telah diberi nilai dan apa bila tidak masuk mendapat
nilai nol.
g)
Indikasi keberhasilan tindakan
dari kemampuan tehnik
dalam
melakukan servis atas bola voli
siswa keberhasilan 80% dengan kategori baik.
SIKLUS II
Seperti halnya siklus pertama,
siklus kedua pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan
refleksi. Materi perancangan latihan servis atas bola voli melalui latihan
angkat tubuh di rancang harus dengan jenis materi yang sesuai agar dapat
memperbaiki hasil proses dari siklus pertama dalam peningkatan kemampuan
melakukan servis bola voli. Pada siklus II jumlah pertemuan sebanyak tiga kali
pertemuan, uraian kegiatan pada siklus
IIadalah sebagai berikut :
1. Tahap
Perencanaan
a.
Menyiapkan materi program latihan melakukan servis atas bola voli
melalui latihan angkat tubuh.
b.
Menyiapkan alat alat dan bahan yang di butuhkan dalam pelaksanaan
siklus II kepada siswa berupa tes kemampuan teknik servis atas bola voli.
c.
Menyiapkan semua sarana prasarana
yang digunakan dalam proses
pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan
teknik servis atas
bola voli melalui latihan angkat tubuh
2. Tahap
Pelaksanaan
a.
Mengidentifikasikan materi peningkatan kemampuan teknik servis atas
bola voli melalui latihan angkat tubuh.
b.
Melaksanakan tes akhir siklus II kepada siswa berupa tes kemampuan
teknik dalam servis atas bola voli.
c.
Indikasi keberhasilan tindakan dari kemampuan tehnik dalam
melakukan servis bawah bola voli siswa dengan keberhasilan 80%
dengan
kategori baik.
3. Tahap
Pengamatan
a.
Penulis mengamati proses latihan melakukan servis bawah bola voli
melalui latihan angkat tubuh.
b.
Penulis melakukan pengamatan dan penilaian terhadap hasil siklus II
keterampilan melalui servis atas
bola voli.
D. Instrumen penelitian
Tes passing bawah terdahulu pernah
dilakukan oleh cicih (2010) dengan Judul “ Penggunaan Latihan kekuatan angkat
lengan Untuk Meningkatkan Kemampuan passing bawah Bola Voli Pada Siswa Kelas VII
MTs Negeri 1 Mekarsari, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang ”.
Instrumen pengumpulan data adalah
alat yang peneliti gunakan untuk mengumpulkan data penelitian sehingga
terkumpul data yang peneliti inginkan. Adapun instrumen penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah berupa :
1.
Observasi
Peneliti mengamati proses latihan
melakukan passing bawah bola voli melalui latihan angkat tubuh. Dan melakukan
pengamatan serta penilaian terhadap hasil siklus II keterampilan melalui
passing bawah bola voli.
a.
Lembar observasi/pengamatan, yaitu suatu instrumen dengan
menggunakan pedoman observasi yang berisi tentang aktifitas yang dilakukan guru
dan siswa pada saat pembelajaran.
b.
Lembar Observasi aktifitas guru, lembar pengamatan yang berisi
aspek-aspek penilaian terhadap aktifitas yang dilakukan guru selama
pembelajaran.
c.
Lembar Observasi proses ketrampilan
passing bawah bola voli siswa.
2.
Test
Siswa melakukan tes kemampuan
passing bawah bola voli setelah melalui pembelajaran kebugaran jasmani dengan
materi kekuatan otot lengan. Siswa melakukan servis atas bola voli dengan
tehnik yang benar dan diberikan 3 kali kesempatan servis. Jika tehnik yang
dilakukan siswa benar mendapatkan poin 1 jika salah poin 0. Dan jika bola
melewati net dan masuk kelapangan sebelah setelah melewati net maka mendapatkan
nilai 1 jika tidak masuk mendapatkan nilai 0.

Net Putri : (2.24m)
1m
5
2 1 4
3 5
1m
3m
Gambar :
Lapangan Untuk Tes Servis Atas Bola Voli
(Sumber:
Nurhasan, 2001:172)
Table 1.
Lembar
Observasi Aktifitas Guru
|
|
|
Kategori
|
|
|
No
|
Aspek
|
|
|
|
Ya
|
Tidak
|
||
|
|
|
|
|
|
1
|
Guru membimbing siswa mengatur
barisan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Guru mengecek kehadiran siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Guru membimbing siswa melakukan
pemanasan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Guru menjelaskan
cara melakukan latihan
untuk
|
|
|
|
|
meningkatkan tehnik dasar servis atas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Guru mendemontrasikan tehnik
latihan dengan benar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Guru mendemonstrasikan servis atas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Guru membimbing siswa melakukan
latihan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Guru memberikan motivasi dan
dorongan agar siswa
|
|
|
|
|
lebih tenang.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Guru membimbing siswa melakukan
Pendinginan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Guru melakukan
evaluasi untuk mengetahui
|
|
|
|
|
kemampuan siswa melakukan servis atas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Yang mengobservasi
|
|
|
Moh.Firmansyah
Catatan :……………………………………………………………………..
Lembar
Observasi Aktivitas Siswa
|
|
|
Kategori
|
|
|
No
|
Aspek
|
|
|
|
Ya
|
Tidak
|
||
|
|
|
|
|
|
1
|
Siswa berbaris rapi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Siswa memperhatikan guru saat
mengecek kehadiran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Siswa melakukan pemanasan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Siswa memperhatikan penjelasan
guru
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Siswa memperhatikan demonstrasi
yang dilakukan guru.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Siswa melakukan latihan untuk
meningkatkan tehnik
|
|
|
|
|
servis atas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Siswa melakukan servis atas dengan
benar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Siswa melakukannya dalam keadaan
tenang
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Siswa melakukan pendinginan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Siswa mengikuti evaluasi
|
|
|
|
|
|
|
|
Yang mengobservasi
MOH.FIRMANSYAH
Catatan :……………………………………………………………………..
Kategori
Penilaian
|
No
|
|
Perolehan
Nilai
|
Klasifikasi Nilai
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
|
|
9 – 10
|
Sangat baik
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
7 – 8
|
Baik
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
5 – 6
|
Sedang
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
3 – 4
|
Kurang
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
|
|
1 – 2
|
Kurang Sekali
|
|
|
|
|
|
|
|
Kategori Ya
|
|
: Nilai 1
|
|
|
|
Kategori Tidak
|
: Nilai 0
|
|
||
E. Proses Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan :
1.
Observasi guru dan siswa, yaitu observasi yang dilakukan oleh
kepala madrasah dan teman sejawat untuk melihat kekurangan dan kelebihan guru
dan siswa selama poses pembelajaran.
2.
Penilaian keterampilan tehnik dasar servis atas bola voli yang
dilakukan siswa.
3.
Dokumentasi. Yaitu berupa foto-foto kegiatan
yang peneliti ambil selama peneliti melakukan pembelajaran, dengan adanya
foto-foto tersebut akan lebih memudahkan peneliti melihat hasil dari penelitian
tersebut.
F.
Tempat dan Waktu Pelaksanaan Observasi
1. Tempat
Observasi
Penelitian dilaksanakan di SMK
NUSANTARA Bogem Grogol Diwek Jombang
2. Waktu
Observasi
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15
desember 2016
G. Tehnik Analisa Data
Sesuai dengan masalah yang akan
diteliti, maka alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes
passing bawah dalam menempatkan bola, tes awal dan tes akhir menggunakan tes
ini yaitu passing bawah sebanyak 3 kali kesempatan passing bawah. Setelah di
peroleh jumlah skor hasil passing bawah, maka akan dianalisis dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
1. Untuk Menilai
Hasil Tes Praktek Siswa
∑ jumlah
Nilai siswa
X
=
X 100%
∑ Jumlah
Nilai Maksimal
2. Untuk
menilai Rata rata tes praktek siswa
∑ X
Keterangan :
X
= Nilai
Rata Rata
∑ X = Jumlah Semua Nilai siswa
∑ N = Jumlah Siswa
3. Untuk
ketuntasan belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu
secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar
mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud,1994) yaitu siswa telah tuntas belajar bila
dikelas tersebut mendapatkan 80% yang telah mencapai daya serap dari sama
dengan menghitung persentase ketuntasan belajar di gunakan rumus sebagai
berikut :
∑ siswa
yang tuntas belajar
P =
x 100%
∑
siswa
Batasan ketuntasan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah batasan kelulusan Purposif yang mengacu pada
penelitian dan sebagai acuan patokan artinya bila siswa mampu mencapai 67% atau
lebih dinyatakan tuntas, angka 67% dari nilai 67 (nilai minimal) dibagi 100 dan
dikali 100%.Sedangkan untuk menghitung lembar observasi aktifitas guru dan
siswa digunakan rumus sebagai berikut :
P1 + P2 X = 
Dengan
X
P =
X 100%
∑X
Keterangan :
P = Persentase Angket
X = Rata-Rata
∑X = Jumlah Rata-Rata
P1 = Pengamat Satu
P2 = Pengamat Dua
J. Indikator Keberhasilan
Setelah didapatkan skor total
kemudian akan didapatkan nilai keberhasilan siswa dengan cara mengubah jumlah
skor siswa menjadi nilai dengan ketentuan yang telah peneliti tetapkan
sebelumnya, supaya bisa menentukan siswa siswa yang sudah tuntas dan yang belum.
Dan untuk standar ketuntasan dalam pembelajaran servis bawah bola voli ini
adalah skor 67 untuk masing –masing siswa. Sehingga apabila siswa belum
mencapai nilai 67 berarti tehnik dasar servis bola voli belum bias dikatakan
baik, nilai KKM 67 keputusan rapat Kepala Sekolah Smk Nusantara. Dengan
perhitungan KKM sebagai berikut :
Jumlah KKM Indikator
KKM = 
Banyak Indikator
134 KKM = 



Komentar
Posting Komentar